Senin, 28 September 2015

CERITA PENDEK

He More Better

Asha berlari menjauhi Reno setelah Asha tau Reno tak tulus untuk mencintainya. Asha berlari menuju taman. Disana, Asha menyesal telah pernah mencintai Reno. Cowo yang ternyata hanya menginginkan harta dan kepandaiannya. Cowo yang ternyata mencintai orang lain. Cowo yang tidak tulus mencintainya.
Suara langkah kaki itu tampak jelas mendekati Asha. Tiba tiba, tangan itu merangkul hangat punggungnya, Asha langsung menengok kearah tangan itu berada.
 “ lo siapa?” tanya Asha heran.
“ oh, kenalin, gue Randi” Cowo itu menjabat lembut tangannya.
“ gue Asha”
“ iya,gue tahu kok”
“ kok lo tahu?”
“ nggak, gue emang diutus aja buat kesini”
“ diutus? Maksud lo? Lo malaikat?” tanya Asha.
“ ya, bukan malaikat sih, lihat, kaki gue nginjek di tanah kan” Asha mengecek kaki cowo itu.
“ terus lo itu apaan?”
“ gue manusia, sama kaya lo”
“ oh, terserah lo aja lah”. Setelah pertemuannya dengan Randi, Asha jauh lebih mudah untuk melupakan Reno. Hubungan Randi dan Asha pun semakin dekat dengan pindahnya Reno dari sekolahan mereka. Selama Asha dekat dengan Randi, Asha tidak pernah lagi merasa sedih, Asha berpikir, mungkinkah ini malaikat dari Tuhan yang diberikan-Nya hanya untuknya.
1 tahun telah berlalu, kedekatan mereka sebagai sahabat sudah tidak bisa disebut lagi. Pergi ke pantai bersama, mengerjakan tugas bersama, dan makan dikantin bersama. Sungguh Asha lebih menyukai saat saat bersama Randi daripada saat saat bersama Reno. Pada suatu hari, sebelum semuanya terjadi….
“ nanti, pulang sekolah, ke taman kota ya”
“ ngapain kita kesana?”
“ nggak papa kan? Nggak ada salahnya kita kesana”
“ memang nggak salah sih, tapi kan…”
“ udah, pokoknya iya aja”
Seperti biasa, Randi memboncengkan Asha dibelakang motor nya. Sepulang sekolah, mereka langsung berangkat ke taman kota.
“ udaranya segar sekali ya”
“ iya,”
“ ada yang gue mau omongin sama lo Sha” jantung Asha berdegup kencang. Berharap Randi akan menembaknya.
“ yaudah, ngomong aja”
“ tapi gue mau beli minuman di toko itu ya”
“ iya” setelah 20 menit lamanya, Asha mulai khawatir dengan keadaan Randi. Tak lama kemudian, ada seseorang yang lari terbirit birit menuju Asha.
“ apa itu temanmu? Dia kecelakaan barusan ada truk yang menabraknya” Asha langsung berlari mengikuti orang itu. Dilihatnya, Randi yang bersimbah darah diatas aspal yang sangat terik. Randi langsung dibawa ke UGD rumah sakit terdekat. Asha sangat terpukul. Sahabat yang sangat ia sayangi akan pergi meninggalkannya.
Setelah 8 jam menunggu didepan ruang UGD, dokterpun keluar ruang UGD dengan wajah sangat bersedih.
“ apakah anda tahu jika pasien mengidap kanker ganas?” tanya Dokter.
“ APA? KANKER?”
“ iya, pasien telah mengidap kanker ganas tersebut selama 1 setengah tahun”
“ lalu, bagaimana keadaan teman saya?”
“ dia masih bernafas sekarang, tetapi, cepat atau lambat, Tuhan akan mengambilnya”
“ nggak mungkin dok, dia masih bisa hidup normal kan?”
“ kemungkinan besar tidak, kankernya sudah stadium terakhir”
“ apa saya boleh melihatnya dok?”
“ silahkan saja, ini, surat yang saya temukan di kantong bajunya” Asha memasuki ruangan Randi. Asha duduk disamping Randi. Asha memegang erat tangan Randi. Dia menangis tersedu-sedu. Asha lalu membuka surat dari Randi untuknya.
Dear Asha, mungkin kalo lo baca surat gue ini, lo pasti lagi nangis. Makasih ya, udah jadi malaikat gue selama terakhir ini. Gue tahu, bukannya gue yang jadi malaikat lo, lo yang ternyata jadi malaikat gue. Gue ngerti kalau gue punya penyakit kanker ini, sori gue coba nyembunyiin semua itu dari lo. Gue takut malaikat gue yang imut itu akan menangis. Dulu, saat dokter bilang gue punya kanker, gue ngerasa nggak mau hidup lagi. Tetapi satelah gue ketemu sama lo, gue ngerasa waktu waktu terakhir gue bisa lebih berarti. Karena lo, gue pengen hidup lagi.
Satu tahun sudah, gue deket sama lo, satu tahun juga lo udah ngasih arti hidup buat gue. Gue tahu, mungkin gue nggak sebaik Reno. Tapi gue yakin, lo bakal nganggep gue lebih dari sahabat lo. Ribuan kenangan udah lo kasih ke gue. Gue bahagia banget saat pertama ketemu sama lo. Hati nurani gue bilang,lo cinta pertama gue, lo itu malaikat gue. Kalau boleh jujur, gue cinta sama lo Sha, gue cinta mati sama lo. Lo yang buat hari hari terakhir gue lebih berharga. Lo mau kan jadi pacar gue?
Air mata Asha tak terbendung lagi. Akhirnya dia menangis.
“ gue ngerti, saat gue temu sama lo, gue juga yakin lo itu malaikat buat gue. Gue juka suka sama lo! Gue mau jadi pacar lo. Lo jauh lebih baik daripada Reno. Bangunlah Ran, gue nggak tahu gimana gue hidup tanpa lo. Bangun Ran, gue nggak pengen hidup tanpa lo” Asha memegang tangan Randi lembut.
Jam berdentang 12 kali. Detak jantung Randi tak berbunyi lagi. Randi telah tiada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar