BERBEDA
“ Halo, namaku Bagas Sabana Samudra,
kamu siapa?”. Avril terus saja mengingat namanya. Baru pertama melihatnya saja
sudah terkagum kagum. Bagaimana jika sudah bisa berteman dekat dengannya.
Kesopanan Bagas yang selama ini sering dibicarakan oleh teman temannya sudah
terlihat oleh mata kepalanya sendiri. Bagas memang sosok anak laki laki yang
manis. Dibalik sifat pendiamnya, Bagas ternyata seorang yang cerdas juga.
Avril Australia. Gadis biasa yang
bersekolah di salah satu sekolah negeri. Tampangnya memang tidak terlalu
cantik, tetapi uang yang dimilikinya bisa dibakar untuk menghangatkan diri
disaat dingin menyergap badan. Sebenarnya, ayahnya menyuruhnya masuk ke sekolah
faforit yang bergengsi di kota itu. Tetapi, Avril tidak mau berpisah dengan teman
teman masa kecilnya dulu.
Keesokan harinya, ini adalah kala
pertamanya masuk ke kelas IX. Kenaikan kelas kemarin, dia mendapatkan peringkat
ke 2. Yang pertama adalah Bagas. Avril sempat tidak percaya bagaimana siswa
pindahan itu merebut gelar juara kelas bertahan yang dari kelas VII
diboyongnya. Avril berusaha mencari kelemahan Bagas. Namun apa daya, usahanya
itu mendapatkan nol besar.
Setelah mengikuti upacara yang
mungkin bisa membuat pingsan itu, semua peserta upacara langsung lari ke papan
informasi. Jika dilihat dari lantai 2, layaknya segerombolan semut yang berebut
satu butir gula. Semuanya berdesak desakan tidak karuan. Sang ketua osis pun
angkat tangan mengaku tidak sanggup meredamkan sifat mereka yang tidak mau
mengantri. Sedangkan Avril berdiri sangat jauh dari papan itu sambil memandangi
tabletnya.
Sebelum kawanan manusia itu menyerbu
papan pengumuman yang beberapa detik lagi akan roboh, Avril sudah mengambil
gambarnya terlebih dahulu. Avril sangat tidak suka untuk berdesak desakan demi
mendapatkan kelas terfaforit. Dan yang pasti, Avril masuk ke deretan kelas
faforit. Senyum pulas mengambang dari bibirnya.
“ kamu lagi apa? Kok senyum senyum
nggak jelas begitu?” sebuah suara memecahkan lamunannya. Avril kenal suara itu.
Itu pasti si Bagas Sabana Samudra yang udah merebut gelar juara kelasnya
seperti mengambil permen dari anak kecil. Avril lalu menoleh dengan sangat
sinis. Avril sangat membencinya. Sangat membencinya. Karena dia adalah anak
pindahan yang tidak tahu aturan untuk mengambil gelar juara kelasnya.
“ what’s wrong? What do you looking
at?” tanya Avril.
“ aneh aja, semuanya masih desak
desakan mau lihat papan pengumuman, kamu malah nyepi disini. Ini bukan hari
raya nyepi kan?”
“ masa bodoh? Emangnya kamu juga
care kalo kamu udah ngambil statusku sebagai juara kelas? You never felt that!”
“ oh, jadi ceritanya kamu masih
belum nerima? Aku juga nggak nyangka lho awalnya, bisa ngalahin cewe yang
katanya juara kelas bertahan tapi, mana ya sekarang juara kelasnya?”
“ jelas. Kamu yang mulai nyari gara
gara sama aku. Kamu jangan ngejek donk. Nanti aku pasti akan bikin kamu
bertekuk lutut sama aku. Aku janji”
“ hm… coba aja kalo bisa” Bagas
menjulurkan lidahnya. Avril membalasnya.
Setelah kejadian itu, Avril berusaha
mendapatkan kembali gelarnya itu. Dan sejak saat itu pula Bagas mulai
menghilang dari sekolah. Padahal, Bagas adalah murid yang aktif di kelas. Namun
setelah adanya gossip yang mengabarkan ayahnya meninggal, Bagas mulai tidak
terlihat lagi. Dia selalu menghilang. Avril kehilangan semangat untuk kembali
mendapatkan gelar juara kelasnya.
Avril mulai mencari Bagas. Bukan
Karena Avril menyukai Bagas, namun, harinya tanpa Bagas seperti hampa. Tidak
ada yang membuatnya marah. Tidak ada yang mengusilinya. Akhirnya Avril terpaksa
pergi ke rumah Bagas. Namun, ternyata rumah Bagas sudah dijual. Dan Bagas
pindah ke tempat lain. Avril putus asa, tidak tahu mau kemana lagi dia mencari
Bagas.
Keesokan harinya, Bagas berangkat ke
sekolah. Tetapi, hari ini, dia sangat berbeda. Sifatnya lebih dingin dari biasanya.
Bagas juga tidak mengusili Avril lagi. Bagas mulai tidak aktif lagi. Dan
nilainya yang dulu pasti diatas 8, sekarang turun menjadi 6 dan 7. Avril sempat
ingin menanyakannya pada Bagas, namun, Avril mengurungkan niatnya. Satu
sekolahan pun ikut heran melihat perubahan sifat Bagas yang mulai menurun.
Berkali kali dia dipanggil kepala sekolah maupun wali kelas, tapi sifatnya sama
saja. Tidak berubah.
Bagas selalu murung dan murung.
Pernah sekali Avril mengikuti Bagas saat pulang ke rumahnya, Avril sempat
terkejut bertapa mungilnya rumah Bagas. Dan jarak antara rumah Bagas dan
sekolah itu tidak bisa dianggap dekat. Bagas yang dulu berangkat menggunakan
sepeda gunungnya, sekarang berganti dengan sepeda buntut yang jelek dan hampir
roboh.
Avril akhirnya memberanikan diri
untuk menanyakan semuanya. Tetapi bukannya mendengarkan, Bagas mengacuhkan dan
meninggalkannya. Bagas Sabana Samudra yang periang, aktif dan cerdas hilang
ditelan bumi dan ditinggalkan Bagas yang dingin, yang malas dan suka tidur
dikelas.
Seminggu kemudian, Bagas kembali
menghilang. Ini bukan seperti waktu menghilangnya beberapa bulan yang lalu.
Avril sudah ke rumah Bagas yang mungil, namun Bagas tidak ada juga. Para
tetangga juga mengaku jika keluarga Bagas adalah keluarga yang sangat tertutup.
Avril sangat tidak bisa diam dengan kejanggalan yang dibuat Bagas. Padahal 5
hari lagi adalah hari yang biasanya Bagas nanti nantikan. 5 nopember adalah
tanggal kelahiran Bagas. Biasanya, pada hari itu juga, Bagas mengundang semua
temannya ke rumahnya.
Namun, 5 hari telah berlalu, Bagas
tak juga muncul. Padahal, beberapa ujian sudah menghadang didepan mata. Namun
Bagas tak kembali juga. Perjuangan Avril untuk kembali mendapatkan juara
kelasnya terasa sangat ringan. Tidak ada lawan yang sebanding dengannya.
Avril akhirnya memutari satu kota
untuk mencari Bagas. Ketika Avril akan berhenti di salah satu simpang lima,
Avril melihat Bagas sedang mengamen dengan anak jalanan lainnya. Avril pun
keluar dari mobil dan meninggalkan sopirnya disana. Avril langsung menarik
tangan Bagas dan menamparnya sekencang kencangnya. Bagas memegangi pipinya yang
merah karena kerasnya tamparan Avril. Teman jalanan Bagas meninggalkan Bagas
dan Avril berdua.
“ mana Bagas Sabana Samudra yang
udah ngerebut gelar juara kelasku? Inikah Bagas yang berambisi itu? Bagas yang
usil, aktif dan cerdas di kelas? Bagas, kamu sadar nggak sih kalau kamu itu
berubah drastis. Kamu bukan Bagas yang aku kenal dulu”
“ maaf Vril, bukannya begitu, aku
bisa jelasin semuanya Vril”
“ yaudah, kamu masuk ke mobilku”
Avril menarik tangan Bagas kasar dan memasukkannya kedalam mobilnya. Avril
duduk disamping sopir. Sedangkan Bagas duduk sendiri di belakang. Sebelum
mereka pulang, mereka pergi ke sebuah toko baju. Hanya Avril yang keluar dan
kembali masuk ke mobil dengan sebuah kresek dari toko itu.
“ pak, berhenti ke SPBU biar dia
ganti baju pake baju ini”.
“ baik nyonya”. Bagas keluar dari
mobil dan diikuti sopir Avril. Avril memang menyuruh sopirnya untuk mengawasi
Bagas supaya tidak kabur. Seharian sudah dia mencari Bagas ke sudut sudut kota
sampai ditemukannya Bagas di simpang lima lampu lalu lintas. Setelah Bagas
mengganti baju, Avril mengajak mereka pergi makan. Di salah satu restoran
foforit miliknya. Setelah makan sampai kenyang, barulah Avril dan Bagas ke
rumah Avril.
Sesampainya di rumah Avril. Avril
menarik tangan Bagas kasar ke taman belakang. Bagas sudah berjanji akan
menceritakan semuanya kepada Avril.
“ cepetan cerita”
“ cerita apaan?”
“ katanya kamu mau njelasin kenapa
kamu ngilang beberapa minggu terakhir ini. Ayo cerita!”
“ ceritanya panjang”
“ persingkat donk”
“ papaku meninggal, utangnya banyak”
“ udah? Gitu doank?”
“ katanya persingkat”
“ hih! Ya nggak gitu juga kali”
“ oke! Sehari setelah ayahku
meninggal, ada dua orang datang dari bank sambil nunjukin tagihan ayah. Kami
diberi waktu tiga hari buat ngelunasin hutang ayah yang mungkin bisa sampai
miliaran. Akhirnya, pada hari H, kami nggak bisa bayar hutang ayah. Mobil,
rumah semuanya kami terpaksa menjual semuanya untuk bayar hutang ayah. Ternyata
semua itu juga masih kurang. Entah kami mau nyari uang dimana lagi waktu itu.
Sampai suatu hari, kami nemuin
seseorang. Beliau mau meminjamkan rumahnya untuk sementara kami tinggal. Setiap
pagi, aku juga meminjam sepedanya. Pas di sekolah, aku kepikiran, bagaimana
kalau ibu dirumah didatangi orang dari bank dan meminta hutang ayah dilunasi.
Aku nggak bisa konsentrasi. Ketika dipanggil sama pak kepsek sama wali kelas
pun, aku nggak mau cerita sama mereka. Soalnya bukannya nasehatin dan nanyain
masalahku, mereka malah memarahiku. Kamu tahu kan kalau aku itu nggak suka
dimarahin.
Pas aku pulang dari sekolah, aku
kaget, penyakit lama ibuku kumat lagi. Aku nggak tahu harus nyari uang dari
mana. Buat makan pun kita biasanya dapet makanan dari yang punya rumah. Awalnya
juga nggak nyaman sama yang punya rumah. Tetapi, Alhamdulillah, beliau enakan
orangnya. Tetapi, katanya suaminya ibu yang punya rumah itu galak. Dan suaminya
masih di luar kota. Masih kerja katanya. Ibu itu punya 2 anak. Salah satu dari
mereka seumuran juga sama aku. Lalu aku curhat sama dia, lalu aku dikenalin
sama temen pengamennya.
Aku akhirnya mau nggak mau ikut
ngamen sama temen temennya. Uang hasil ngamen aku buat beli obat ibuku.
Alhamdulillah kemarin sudah sembuh. Tetapi, pas ibuku belum sembuh, ternyata
suami ibu yang punya rumah itu balik. Dia kira, kita ngontrak. Awalnya dia baik
sama kita. Pas dia tahu kalau kita nggak pernah bayar. Kita diusir dari sana.
Padahal waktu itu ibu belum sembuh total. Untung salah satu temen pengamenku
punya rumah kecil. Ya sudah, ibu aku titipkan disana. Sedangkan aku tidur
didepan rumahnya.
Pas aku lagi ngamen, hari itu
Alhamdulillah dapet uang banyak. Tiba tiba ada orang yang ngaku dari bank minta
uang utangnya ayah. Aku bilang nggak ada. Tetapi, mereka lalu ngerebut semua
uang aku dan bilang kalau uang ini belum cukup buat ngelunasin utangnya ayah.
Padahal uang itu mau aku buat beli ayam. Ibuku katanya pengen ayam. Karena
uangnya nggak ada, ibu jadi makan nasi sama kecap doank seperti biasa, kemarin
kan ibu udah sembuh, jadi ibu keluar dari rumah itu dan bikin rumah kerdus
nggak jauh dari tempat dimana kamu nemuin aku tadi”
“ tapi kan nggak gitu caranya kamu
ngejauhin aku. Aku jadi risih sendiri” Bagas bangkit lalu berlutut didepan
Avril. Dia menangis sebentar. Lalu Bagas memegang lembut tangan Avril.
“ Avril, sebenarnya aku suka banget
sama kamu. Aku cinta sama kamu,tapi aku nggak tahu kamunya gimana ke aku. Aku
emang sekarang udah miskin. Udah nggak punya harta sepeserpun. Dan aku nggak selevel
sama cewe cerdas dan kaya kaya kamu. Hutang ayahku memang banyak. Dan aku akhir
akhir ini jadi pengamen dan putus sekolah. Tapi Vril, sejujurnya aku suka
banget sama kamu. Aku sebenarnya juga takut ngomong ini sama kamu. Takutnya
kamu risih sama aku yang sekarang udah jadi gembel nggak karuan gini. Aku mau
kamu jadi pacarku. Tapi nggak tahu lah kamu paling benci sama aku”
Avril terdiam. Matanya berkaca kaca.
Bagas masih menunduk dan memegang tangannya. Avril melepaskan genggaman Bagas
kasar, kemudian bangkit dan meninggalkan Bagas yang masih bertekuk lutut
disana. Avril menyuruh para pekerjanya buat ngusir Bagas dari sana. Bagas
ditarik dengan paksa oleh mereka. Namun, Bagas nggak mberontak. Dia tahu Avril
bakal melakukan itu sama dia. Avril udah jijik sama tampang gembelnya yang
sekarang.
Avril berlari menuju kamarnya.
Dikamar, Avril menangis. Entah karena benci, entah karena apa, tapi yang
dirasakannya saat ini adalah kebencian. Sosok Bagas yang menjadi gembel dengan
mudahnya mengungkapkan perasaan hatinya semudah itu? Awalnya Avril merasa
kasihan dengan cerita Bagas. Tapi, setelah Bagas mengungkapkan perasaannya,
Avril merasa benci sebenci bencinya kepada Bagas. Dan dia tak akan mencari
Bagas lagi.
Seminggu kemudian, ibu Bagas sempat
meminjam uang kepada ibu yang dulu pernah meminjamkannya rumah. Uang pinjaman
itu di gunakannya untuk membuat toko kue kecil kecilan saja. Namun, toko kue
milik ibu Bagas itu berkembang pesat. Sehingga hutang hutang ayah Bagas bias
mulai terlunasi. Sedangkan Bagas yang sekolahnya sempat putus, kembali mengejar
paket dan akhirnya lulus dengan nilai terbaik. Sayangnya, teman teman yang
dulunya satu kelas dengannya, kini terpaksa menjadi kakak kelasnya.
Bagas kini sudah menjadi anak kelas
X. sedangkan teman temannya sudah menjadi kelas XI. Bagas bersekolah di salah
satu SMA negeri yang juga satu sekolahan dengan Avril. Namun, di SMAnya yang
sekarang, Avril layaknya ratu. Kemanapun dia pergi, pasti ada 2 cewe yang
menjadi bodyguardnya.
“ aku kangen sama Avril”
“ hah? Kak Avril yang cantik itu?
Kalau kamu kedengeran sama bodyguarnya kak Avril kamu manggil kak Avril nggak
pake kak, kamu bisa dapet tinta hijau”
“ apa salahnya? Kan Avril temen
sekelasku dulu”
“ tapi ya nggak boleh. Status kita
itu adik kelasnya kak Avril. Kakak senior aja pada tunduk sama kak Avril.
Soalnya kak Avril yang punya yayasan”
“ by the way, tadi kamu bilang tinta
hijau itu maksudnya gimana?”
“ di sekolahan ini, tiap siswa baru
pasti punya loker yang warnanya abu abu. Kalau loker kita berubah menjadi hijau
berarti kita sudah mengusik hidup kak Avril”
“ kalau aku udah mengusik hidup
Avril, gimana jadinya?”
“ kamu bakal di keluarin”
“ walaupun orang kaya?”
“ yup! Kak Avril nggak pernah
pandang bulu dalam itu, dan kak Avril punya 4 tinta. Tinta hijau, biru tua,
merah dan hitam. Kalau kamu dapat tinta hitam. Kamu di keluarin”
Wah, seperti singa yang mendapat
mangsa. Bagas merasa dirinya tertantang untuk mendapatkan tinta dengan warna
hitam. Dengan beberapa trik yang sudah dimatangkan, Bagas akan memulai aksinya
pada saat waktu istirahat tiba. Dan ketika istirahat tiba, Bagas mencari Avril.
Setelah lama mencari, akhirnya Bagas menemukan Avril dengan beberapa dayang
setianya. Lalu Bagas datang langsung menyodorkan coklat murahan yang harganya
tak lebih dari 1000 rupiah kepada Avril. Avril bingung tak mengerti.
Sebenarnya, dia terkejut melihat Bagas yang berdiri diatas tanah sekolahnya.
“ apa apaan ini? Kamu ngehina aku
anak baru? Aku ini kakak kelasmu. Maksud kamu apa?”
“ Avril, ini coklat special buat
kamu. Aku kan dulu temanmu, Bagas Sabana Samudra. Aku suka sama kamu dan aku
nggak pernah berhenti buat nyatain perasaanku sama kamu”
“ Bagas siapa? Kalo sama kakak kelas
yang sopan dikit donk, jangan panggil nama doank. Nggak sopan banget. Diajarin
adab nggak sama orangtuanya? Dasar nggak bermoral”
Plaaaaaakkkk……….
Bagas menampar pipi Avril. Seketika
kantin menjadi hening. Seperti pemakaman. Semuanya menoleh kearah Avril dan
Bagas. Wajah Avril merah seketika dan langsung mendorong Bagas. Setelah itu,
dia pun berlalu.
Bagas tersenyum tanda bahagia.
Tetapi ada rasa kecewa dihatinya karena menduduh sebagai anak tek beradab. Bagas
sudah mengira, pasti Bagas akan langsung mendapatkan tinta hitam. Kalaupun dia
mendapat tinta hitam, dia pasti akan terus menganggu hidup Avril layaknya waktu
SMP dulu.
Saat Bagas akan membuka lokernya…
Plaaaaakkkk….. plaaaaaakkkk…….
Plaaaakkkk…… plaaaakkkk…
Tinta hitam memenuhi baju Bagas
seketika. Bagas dilempari semua anak dengan tinta hitam. Seketika, baju bagas
yang masih baru menjadi berwarna hitam. Bagas menitikkan air mata tanda
bahagia. Bagas lalu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Avril. Ternyata
Avril sedang memandanginya sambil melipat tangannya sombong. Namun, tunggu!
Avril menitikkan air mata. Bagas lalu berlari ke arahnya dan memeluknya. Baju
Avril menjadi berwarna hitam pula. Namun, Avril membalas pelukan itu hangat.
Bagas tau, Avril tidak serius dalam permasalahan ini, karena Bagas tahu,
sebenarnya, Avril juga menyayanginya.
“ maafkan aku Bagas. Aku awalnya
memang jijik padamu sejak hari itu. Namun, hari hariku tetap tak berwarna.
Karena aku tidak bisa mewarnai hariku sendiri. Cuma kamu yang bisa mewarnai
hari hariku menjadi hari terbaik disetiap harinya. Maafkan aku Bagas. Aku
menyayangimu”
Bagas tersenyum dan membelai rambut
Avril lembut. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun, ini
juga menjadi bukti bahwa Avril bukan seperti yang mereka kira….
Avril adalah anak cerdas dan kaya
yang parasnya tidak terlalu cantik. Namun, dia mempunyai hati yang lebih hangat
dari bayi, lebih lembut dari kapas dan lebih menawan daripada mawar.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar