Senin, 19 Oktober 2015

CERITA PENDEK



BERBEDA
“ Halo, namaku Bagas Sabana Samudra, kamu siapa?”. Avril terus saja mengingat namanya. Baru pertama melihatnya saja sudah terkagum kagum. Bagaimana jika sudah bisa berteman dekat dengannya. Kesopanan Bagas yang selama ini sering dibicarakan oleh teman temannya sudah terlihat oleh mata kepalanya sendiri. Bagas memang sosok anak laki laki yang manis. Dibalik sifat pendiamnya, Bagas ternyata seorang yang cerdas juga.
Avril Australia. Gadis biasa yang bersekolah di salah satu sekolah negeri. Tampangnya memang tidak terlalu cantik, tetapi uang yang dimilikinya bisa dibakar untuk menghangatkan diri disaat dingin menyergap badan. Sebenarnya, ayahnya menyuruhnya masuk ke sekolah faforit yang bergengsi di kota itu. Tetapi, Avril tidak mau berpisah dengan teman teman masa kecilnya dulu.
Keesokan harinya, ini adalah kala pertamanya masuk ke kelas IX. Kenaikan kelas kemarin, dia mendapatkan peringkat ke 2. Yang pertama adalah Bagas. Avril sempat tidak percaya bagaimana siswa pindahan itu merebut gelar juara kelas bertahan yang dari kelas VII diboyongnya. Avril berusaha mencari kelemahan Bagas. Namun apa daya, usahanya itu mendapatkan nol besar.
Setelah mengikuti upacara yang mungkin bisa membuat pingsan itu, semua peserta upacara langsung lari ke papan informasi. Jika dilihat dari lantai 2, layaknya segerombolan semut yang berebut satu butir gula. Semuanya berdesak desakan tidak karuan. Sang ketua osis pun angkat tangan mengaku tidak sanggup meredamkan sifat mereka yang tidak mau mengantri. Sedangkan Avril berdiri sangat jauh dari papan itu sambil memandangi tabletnya.
Sebelum kawanan manusia itu menyerbu papan pengumuman yang beberapa detik lagi akan roboh, Avril sudah mengambil gambarnya terlebih dahulu. Avril sangat tidak suka untuk berdesak desakan demi mendapatkan kelas terfaforit. Dan yang pasti, Avril masuk ke deretan kelas faforit. Senyum pulas mengambang dari bibirnya.
“ kamu lagi apa? Kok senyum senyum nggak jelas begitu?” sebuah suara memecahkan lamunannya. Avril kenal suara itu. Itu pasti si Bagas Sabana Samudra yang udah merebut gelar juara kelasnya seperti mengambil permen dari anak kecil. Avril lalu menoleh dengan sangat sinis. Avril sangat membencinya. Sangat membencinya. Karena dia adalah anak pindahan yang tidak tahu aturan untuk mengambil gelar juara kelasnya.
“ what’s wrong? What do you looking at?” tanya Avril.
“ aneh aja, semuanya masih desak desakan mau lihat papan pengumuman, kamu malah nyepi disini. Ini bukan hari raya nyepi kan?”
“ masa bodoh? Emangnya kamu juga care kalo kamu udah ngambil statusku sebagai juara kelas? You never felt that!”
“ oh, jadi ceritanya kamu masih belum nerima? Aku juga nggak nyangka lho awalnya, bisa ngalahin cewe yang katanya juara kelas bertahan tapi, mana ya sekarang juara kelasnya?”
“ jelas. Kamu yang mulai nyari gara gara sama aku. Kamu jangan ngejek donk. Nanti aku pasti akan bikin kamu bertekuk lutut sama aku. Aku janji”
“ hm… coba aja kalo bisa” Bagas menjulurkan lidahnya. Avril membalasnya.
Setelah kejadian itu, Avril berusaha mendapatkan kembali gelarnya itu. Dan sejak saat itu pula Bagas mulai menghilang dari sekolah. Padahal, Bagas adalah murid yang aktif di kelas. Namun setelah adanya gossip yang mengabarkan ayahnya meninggal, Bagas mulai tidak terlihat lagi. Dia selalu menghilang. Avril kehilangan semangat untuk kembali mendapatkan gelar juara kelasnya.
Avril mulai mencari Bagas. Bukan Karena Avril menyukai Bagas, namun, harinya tanpa Bagas seperti hampa. Tidak ada yang membuatnya marah. Tidak ada yang mengusilinya. Akhirnya Avril terpaksa pergi ke rumah Bagas. Namun, ternyata rumah Bagas sudah dijual. Dan Bagas pindah ke tempat lain. Avril putus asa, tidak tahu mau kemana lagi dia mencari Bagas.
Keesokan harinya, Bagas berangkat ke sekolah. Tetapi, hari ini, dia sangat berbeda. Sifatnya lebih dingin dari biasanya. Bagas juga tidak mengusili Avril lagi. Bagas mulai tidak aktif lagi. Dan nilainya yang dulu pasti diatas 8, sekarang turun menjadi 6 dan 7. Avril sempat ingin menanyakannya pada Bagas, namun, Avril mengurungkan niatnya. Satu sekolahan pun ikut heran melihat perubahan sifat Bagas yang mulai menurun. Berkali kali dia dipanggil kepala sekolah maupun wali kelas, tapi sifatnya sama saja. Tidak berubah.
Bagas selalu murung dan murung. Pernah sekali Avril mengikuti Bagas saat pulang ke rumahnya, Avril sempat terkejut bertapa mungilnya rumah Bagas. Dan jarak antara rumah Bagas dan sekolah itu tidak bisa dianggap dekat. Bagas yang dulu berangkat menggunakan sepeda gunungnya, sekarang berganti dengan sepeda buntut yang jelek dan hampir roboh.
Avril akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan semuanya. Tetapi bukannya mendengarkan, Bagas mengacuhkan dan meninggalkannya. Bagas Sabana Samudra yang periang, aktif dan cerdas hilang ditelan bumi dan ditinggalkan Bagas yang dingin, yang malas dan suka tidur dikelas.
Seminggu kemudian, Bagas kembali menghilang. Ini bukan seperti waktu menghilangnya beberapa bulan yang lalu. Avril sudah ke rumah Bagas yang mungil, namun Bagas tidak ada juga. Para tetangga juga mengaku jika keluarga Bagas adalah keluarga yang sangat tertutup. Avril sangat tidak bisa diam dengan kejanggalan yang dibuat Bagas. Padahal 5 hari lagi adalah hari yang biasanya Bagas nanti nantikan. 5 nopember adalah tanggal kelahiran Bagas. Biasanya, pada hari itu juga, Bagas mengundang semua temannya ke rumahnya.
Namun, 5 hari telah berlalu, Bagas tak juga muncul. Padahal, beberapa ujian sudah menghadang didepan mata. Namun Bagas tak kembali juga. Perjuangan Avril untuk kembali mendapatkan juara kelasnya terasa sangat ringan. Tidak ada lawan yang sebanding dengannya.
Avril akhirnya memutari satu kota untuk mencari Bagas. Ketika Avril akan berhenti di salah satu simpang lima, Avril melihat Bagas sedang mengamen dengan anak jalanan lainnya. Avril pun keluar dari mobil dan meninggalkan sopirnya disana. Avril langsung menarik tangan Bagas dan menamparnya sekencang kencangnya. Bagas memegangi pipinya yang merah karena kerasnya tamparan Avril. Teman jalanan Bagas meninggalkan Bagas dan Avril berdua.
“ mana Bagas Sabana Samudra yang udah ngerebut gelar juara kelasku? Inikah Bagas yang berambisi itu? Bagas yang usil, aktif dan cerdas di kelas? Bagas, kamu sadar nggak sih kalau kamu itu berubah drastis. Kamu bukan Bagas yang aku kenal dulu”
“ maaf Vril, bukannya begitu, aku bisa jelasin semuanya Vril”
“ yaudah, kamu masuk ke mobilku” Avril menarik tangan Bagas kasar dan memasukkannya kedalam mobilnya. Avril duduk disamping sopir. Sedangkan Bagas duduk sendiri di belakang. Sebelum mereka pulang, mereka pergi ke sebuah toko baju. Hanya Avril yang keluar dan kembali masuk ke mobil dengan sebuah kresek dari toko itu.
“ pak, berhenti ke SPBU biar dia ganti baju pake baju ini”.
“ baik nyonya”. Bagas keluar dari mobil dan diikuti sopir Avril. Avril memang menyuruh sopirnya untuk mengawasi Bagas supaya tidak kabur. Seharian sudah dia mencari Bagas ke sudut sudut kota sampai ditemukannya Bagas di simpang lima lampu lalu lintas. Setelah Bagas mengganti baju, Avril mengajak mereka pergi makan. Di salah satu restoran foforit miliknya. Setelah makan sampai kenyang, barulah Avril dan Bagas ke rumah Avril.
Sesampainya di rumah Avril. Avril menarik tangan Bagas kasar ke taman belakang. Bagas sudah berjanji akan menceritakan semuanya kepada Avril.
“ cepetan cerita”
“ cerita apaan?”
“ katanya kamu mau njelasin kenapa kamu ngilang beberapa minggu terakhir ini. Ayo cerita!”
“ ceritanya panjang”
“ persingkat donk”
“ papaku meninggal, utangnya banyak”
“ udah? Gitu doank?”
“ katanya persingkat”
“ hih! Ya nggak gitu juga kali”
“ oke! Sehari setelah ayahku meninggal, ada dua orang datang dari bank sambil nunjukin tagihan ayah. Kami diberi waktu tiga hari buat ngelunasin hutang ayah yang mungkin bisa sampai miliaran. Akhirnya, pada hari H, kami nggak bisa bayar hutang ayah. Mobil, rumah semuanya kami terpaksa menjual semuanya untuk bayar hutang ayah. Ternyata semua itu juga masih kurang. Entah kami mau nyari uang dimana lagi waktu itu.
Sampai suatu hari, kami nemuin seseorang. Beliau mau meminjamkan rumahnya untuk sementara kami tinggal. Setiap pagi, aku juga meminjam sepedanya. Pas di sekolah, aku kepikiran, bagaimana kalau ibu dirumah didatangi orang dari bank dan meminta hutang ayah dilunasi. Aku nggak bisa konsentrasi. Ketika dipanggil sama pak kepsek sama wali kelas pun, aku nggak mau cerita sama mereka. Soalnya bukannya nasehatin dan nanyain masalahku, mereka malah memarahiku. Kamu tahu kan kalau aku itu nggak suka dimarahin.
Pas aku pulang dari sekolah, aku kaget, penyakit lama ibuku kumat lagi. Aku nggak tahu harus nyari uang dari mana. Buat makan pun kita biasanya dapet makanan dari yang punya rumah. Awalnya juga nggak nyaman sama yang punya rumah. Tetapi, Alhamdulillah, beliau enakan orangnya. Tetapi, katanya suaminya ibu yang punya rumah itu galak. Dan suaminya masih di luar kota. Masih kerja katanya. Ibu itu punya 2 anak. Salah satu dari mereka seumuran juga sama aku. Lalu aku curhat sama dia, lalu aku dikenalin sama temen pengamennya.
Aku akhirnya mau nggak mau ikut ngamen sama temen temennya. Uang hasil ngamen aku buat beli obat ibuku. Alhamdulillah kemarin sudah sembuh. Tetapi, pas ibuku belum sembuh, ternyata suami ibu yang punya rumah itu balik. Dia kira, kita ngontrak. Awalnya dia baik sama kita. Pas dia tahu kalau kita nggak pernah bayar. Kita diusir dari sana. Padahal waktu itu ibu belum sembuh total. Untung salah satu temen pengamenku punya rumah kecil. Ya sudah, ibu aku titipkan disana. Sedangkan aku tidur didepan rumahnya.
Pas aku lagi ngamen, hari itu Alhamdulillah dapet uang banyak. Tiba tiba ada orang yang ngaku dari bank minta uang utangnya ayah. Aku bilang nggak ada. Tetapi, mereka lalu ngerebut semua uang aku dan bilang kalau uang ini belum cukup buat ngelunasin utangnya ayah. Padahal uang itu mau aku buat beli ayam. Ibuku katanya pengen ayam. Karena uangnya nggak ada, ibu jadi makan nasi sama kecap doank seperti biasa, kemarin kan ibu udah sembuh, jadi ibu keluar dari rumah itu dan bikin rumah kerdus nggak jauh dari tempat dimana kamu nemuin aku tadi”
“ tapi kan nggak gitu caranya kamu ngejauhin aku. Aku jadi risih sendiri” Bagas bangkit lalu berlutut didepan Avril. Dia menangis sebentar. Lalu Bagas memegang lembut tangan Avril.
“ Avril, sebenarnya aku suka banget sama kamu. Aku cinta sama kamu,tapi aku nggak tahu kamunya gimana ke aku. Aku emang sekarang udah miskin. Udah nggak punya harta sepeserpun. Dan aku nggak selevel sama cewe cerdas dan kaya kaya kamu. Hutang ayahku memang banyak. Dan aku akhir akhir ini jadi pengamen dan putus sekolah. Tapi Vril, sejujurnya aku suka banget sama kamu. Aku sebenarnya juga takut ngomong ini sama kamu. Takutnya kamu risih sama aku yang sekarang udah jadi gembel nggak karuan gini. Aku mau kamu jadi pacarku. Tapi nggak tahu lah kamu paling benci sama aku”
Avril terdiam. Matanya berkaca kaca. Bagas masih menunduk dan memegang tangannya. Avril melepaskan genggaman Bagas kasar, kemudian bangkit dan meninggalkan Bagas yang masih bertekuk lutut disana. Avril menyuruh para pekerjanya buat ngusir Bagas dari sana. Bagas ditarik dengan paksa oleh mereka. Namun, Bagas nggak mberontak. Dia tahu Avril bakal melakukan itu sama dia. Avril udah jijik sama tampang gembelnya yang sekarang.
Avril berlari menuju kamarnya. Dikamar, Avril menangis. Entah karena benci, entah karena apa, tapi yang dirasakannya saat ini adalah kebencian. Sosok Bagas yang menjadi gembel dengan mudahnya mengungkapkan perasaan hatinya semudah itu? Awalnya Avril merasa kasihan dengan cerita Bagas. Tapi, setelah Bagas mengungkapkan perasaannya, Avril merasa benci sebenci bencinya kepada Bagas. Dan dia tak akan mencari Bagas lagi.
Seminggu kemudian, ibu Bagas sempat meminjam uang kepada ibu yang dulu pernah meminjamkannya rumah. Uang pinjaman itu di gunakannya untuk membuat toko kue kecil kecilan saja. Namun, toko kue milik ibu Bagas itu berkembang pesat. Sehingga hutang hutang ayah Bagas bias mulai terlunasi. Sedangkan Bagas yang sekolahnya sempat putus, kembali mengejar paket dan akhirnya lulus dengan nilai terbaik. Sayangnya, teman teman yang dulunya satu kelas dengannya, kini terpaksa menjadi kakak kelasnya.
Bagas kini sudah menjadi anak kelas X. sedangkan teman temannya sudah menjadi kelas XI. Bagas bersekolah di salah satu SMA negeri yang juga satu sekolahan dengan Avril. Namun, di SMAnya yang sekarang, Avril layaknya ratu. Kemanapun dia pergi, pasti ada 2 cewe yang menjadi bodyguardnya.
“ aku kangen sama Avril”
“ hah? Kak Avril yang cantik itu? Kalau kamu kedengeran sama bodyguarnya kak Avril kamu manggil kak Avril nggak pake kak, kamu bisa dapet tinta hijau”
“ apa salahnya? Kan Avril temen sekelasku dulu”
“ tapi ya nggak boleh. Status kita itu adik kelasnya kak Avril. Kakak senior aja pada tunduk sama kak Avril. Soalnya kak Avril yang punya yayasan”
“ by the way, tadi kamu bilang tinta hijau itu maksudnya gimana?”
“ di sekolahan ini, tiap siswa baru pasti punya loker yang warnanya abu abu. Kalau loker kita berubah menjadi hijau berarti kita sudah mengusik hidup kak Avril”
“ kalau aku udah mengusik hidup Avril, gimana jadinya?”
“ kamu bakal di keluarin”
“ walaupun orang kaya?”
“ yup! Kak Avril nggak pernah pandang bulu dalam itu, dan kak Avril punya 4 tinta. Tinta hijau, biru tua, merah dan hitam. Kalau kamu dapat tinta hitam. Kamu di keluarin”
Wah, seperti singa yang mendapat mangsa. Bagas merasa dirinya tertantang untuk mendapatkan tinta dengan warna hitam. Dengan beberapa trik yang sudah dimatangkan, Bagas akan memulai aksinya pada saat waktu istirahat tiba. Dan ketika istirahat tiba, Bagas mencari Avril. Setelah lama mencari, akhirnya Bagas menemukan Avril dengan beberapa dayang setianya. Lalu Bagas datang langsung menyodorkan coklat murahan yang harganya tak lebih dari 1000 rupiah kepada Avril. Avril bingung tak mengerti. Sebenarnya, dia terkejut melihat Bagas yang berdiri diatas tanah sekolahnya.
“ apa apaan ini? Kamu ngehina aku anak baru? Aku ini kakak kelasmu. Maksud kamu apa?”
“ Avril, ini coklat special buat kamu. Aku kan dulu temanmu, Bagas Sabana Samudra. Aku suka sama kamu dan aku nggak pernah berhenti buat nyatain perasaanku sama kamu”
“ Bagas siapa? Kalo sama kakak kelas yang sopan dikit donk, jangan panggil nama doank. Nggak sopan banget. Diajarin adab nggak sama orangtuanya? Dasar nggak bermoral”
Plaaaaaakkkk……….
Bagas menampar pipi Avril. Seketika kantin menjadi hening. Seperti pemakaman. Semuanya menoleh kearah Avril dan Bagas. Wajah Avril merah seketika dan langsung mendorong Bagas. Setelah itu, dia pun berlalu.
Bagas tersenyum tanda bahagia. Tetapi ada rasa kecewa dihatinya karena menduduh sebagai anak tek beradab. Bagas sudah mengira, pasti Bagas akan langsung mendapatkan tinta hitam. Kalaupun dia mendapat tinta hitam, dia pasti akan terus menganggu hidup Avril layaknya waktu SMP dulu.
Saat Bagas akan membuka lokernya…
Plaaaaakkkk….. plaaaaaakkkk……. Plaaaakkkk…… plaaaakkkk…
Tinta hitam memenuhi baju Bagas seketika. Bagas dilempari semua anak dengan tinta hitam. Seketika, baju bagas yang masih baru menjadi berwarna hitam. Bagas menitikkan air mata tanda bahagia. Bagas lalu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Avril. Ternyata Avril sedang memandanginya sambil melipat tangannya sombong. Namun, tunggu! Avril menitikkan air mata. Bagas lalu berlari ke arahnya dan memeluknya. Baju Avril menjadi berwarna hitam pula. Namun, Avril membalas pelukan itu hangat. Bagas tau, Avril tidak serius dalam permasalahan ini, karena Bagas tahu, sebenarnya, Avril juga menyayanginya.
“ maafkan aku Bagas. Aku awalnya memang jijik padamu sejak hari itu. Namun, hari hariku tetap tak berwarna. Karena aku tidak bisa mewarnai hariku sendiri. Cuma kamu yang bisa mewarnai hari hariku menjadi hari terbaik disetiap harinya. Maafkan aku Bagas. Aku menyayangimu”
Bagas tersenyum dan membelai rambut Avril lembut. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun, ini juga menjadi bukti bahwa Avril bukan seperti yang mereka kira….
Avril adalah anak cerdas dan kaya yang parasnya tidak terlalu cantik. Namun, dia mempunyai hati yang lebih hangat dari bayi, lebih lembut dari kapas dan lebih menawan daripada mawar.

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar